Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Ditpolair Polda Banten Amankan Seorang Pengedar Obat-obatan Berbahaya

By On 10/31/2019 02:59:00 AM


SERANG, CULA1.ID - Seorang pemuda diduga pengedar obat keras ilegal jenis Tramadol di Kampung Gudang Areng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Banten, ditangkap jajaran Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten, Rabu, 30 Oktober 2019.

Selain obat Tramadol, dari tangan pelaku yang berinisial FJ (20), seorang warga asal Aceh Utara ini petugas juga mengamankan obat keras lainnya jenis Hexymer.

Kapolda Banten, Irjen Pol Tomsi Tohir melalui Dirpolair Kombes Pol Nunung Syaifuddin mengatakan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat.

"Kami menerima laporan dari masyarakat. Kemudian tim di lapangan melakukan observasi. Dari hasil penyelidikan bahwa benar ada aktifitas peredaran obat-obatan terlarang," kata Kombes Pol Nunung Syaifuddin.

Sampai saat ini, pihaknya masih menyelidiki keterkaitan pelaku apakah ada sangkut pautnya dengan para pelaku lainnya yang ditangkap Jajaran Polda Banten belum lama ini terkait peredaran obat terlang tersebut.

Barang bukti Hexymer 59 butir dalam plastik clip, kemudian Tramadol 35 butir clip dan uang sejumlah Rp 398.000 diamankan guna penyelidikan lebih lanjut.

"Satu buah handphone dan catatan hasil penjualan akan kami dalami untuk mengusut tuntas peredaran obat-obatan keras ini di wilayah Banten," ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Edy Sumardi mengatakan, bahwa obat-obatan Tramadol dan Hexymer tersebut tidak boleh dijual secara bebas.

"Obat jenis Tramadol ini digunakan sebagai penahan rasa nyeri yang digunakan oleh tenaga medis pasca operasi atau juga melahirkan," terang Kombes Pol Edy Sumardi.

Obat tersebut, kata Edy, hanya dipergunakan untuk kepentingan medis. Jika disalahgunakan tentu efeknya akan membahayakan bagi tubuh para penggunanya.

"Kepada masyarakat, mari kita wujudkan generasi hidup sehat dan jauhi obat-obatan terlarang," imbaunya.

Pelaku diduga melanggar Pasal 196 dan/atau Pasal 197 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, juga Pasal 83 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan dengan ancaman hukuman dua tahun penjara. (Dimas Agung/BidHumas)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »