Jurnal Kelestarian Bangsa

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

BKSDA Serang Melepas Liarkan 1.812 Ekor Burung Hasil Sitaan

By On 11/28/2019 07:23:00 PM


SERANG, CULA1.ID - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kelas I Serang melepas liarkan sebanyak 1.812 ekor burung berbagai macam jenis yang tidak dilengkapi surat ijin/dokumen (SATS-DN) dari BKSDA dan surat/dokumen (SKKH) dari Balai Karantina Pertanian.

Berbagai macam jenis burung tersebut diamankan petugas Unit Resmob dan Petugas KSDA SKW1 Serang dari jembatan layang pintu Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kelas I Serang, Andre Ginson mengatakan, burung-burung tersebut diamankan petugas pada Rabu, 27 November 2019, di Jembatan Layang Pintu Pelabuhan dari dua tersangka berinisial AF (30) dan CD (18), yang kini diamankan di Satuan Reskrim Polres Cilegon.

"Burung-burung ini yang diduga dilindungi dan burung lainnya yang berasal dari hutan di kawasan Provinsi Sumatera Selatan dibawa dengan menggunakan 1 unit mobil minibus grand livina nopol B 1849 CVC," kata Andre usai melakukan pelepas liaran burung-burung hasil sitaan di Rawa Danau, Panenjoan, Mancak, Kabupaten Serang, Banten, Kamis, 28 November 2019.

Andre juga mengatakan, berbagai macam burung yang dilepasliarkan tersebut berupa ciblack sebanyak 960 ekor, Perenjak 90 ekor, Colibri sebanyak 420 ekor, Conin sebanyak 210 ekor, Gelatik Batu sebanyak 90 ekor, Cucak Ranting (dilindungi) sebanyak 42 ekor.

"Total seluruhnya 1.812 ekor, namun yang mati sampai saat ini diperkirakan lebih kurang 600 ekor," ungkapnya.

Andre menghimbau kepada masyarakat jika ingin membawa burung harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen resmi, hindari penangkapan liar burung yang dilindungi, guna kelestarian habitanya di alam.

"Saya sangat berterimakasih sekali pada masyarakat yang mau peduli akan kelestarian habitat hewan ini, hindari penangkapan liar, jaga kelestarian habitat, dan jaga hutan kita," harapnya.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan ketentuan Pidana yakni Undang-Undang RI Nomor 05 Tahun 1990 tentang konservasi SDA hayati dan ekosistemnya dan/atau Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina Hewan. (Amsar/Faiz) 

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »