Jurnal Kelestarian Bangsa

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Oknum Satpam PT. TSIK Diduga Usir Wartawan dan Langgar UU Tentang Pers

By On 10/25/2020 07:51:00 PM

Penulis : Imanudin Arohman

SERANG, Cula1.ID - Dalam Pasal 4 Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers dinyatakan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran dan pembredelan atau pelarangan penyiaran.

Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hal mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi dan hak tolak sebagai bentuk pertanggungjawaban pemberitaan. 

Jaminan terhadap kebebasan pers memiliki kausalitas dengan perlindungan wartawan. Tidak ada gunanya ada kemerdekaan pers, tapi wartawan tidak merdeka dalam melakukan pekerjaan dan kegiatan jurnalistik sesuai tuntutan profesinya. 

Jadi kemerdekaan pers ada dalam rangka agar wartawan dalam menjalankan pekerjaannya untuk memenuhi hak atas informasi (right to information) dan hak untuk tahu (right to know) dari masyarakat yang notabene adalah menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya (obligation to fulfil).

Karena itulah, sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 UU 40 Tahun 1999, dinyatakan bahwa dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.

Selain mendapat perlindungan hukum, wartawan juga memiliki hak tolak dalam rangka untuk melindungi narasumber, tidak semua profesi memiliki hak semacam ini. Akan tetapi, masih saja ada oknum yang diduga dengan sengaja menghalangi wartawan dalam melaksanakan tugas mencari dan menggali suatu informasi dari sebuah peristiwa ataupun kejadian. 

Dimana kejadian itu menimpa anggota Persatuan Wartawan Serang Timur (Perwast), keduanya adalah Shauth Maressha M. Munthe wartawan media online Patroli.co dan Nurjamin wartawan media online Sinarpagijuara.com yang hendak mengambil dokumentasi dan mencari informasi terkait adanya peristiwa PT. Tunas Sumber Ideakreasi Kimia (TSIK) di lalap si jago merah beberapa waktu yang lalu.

Dengan adanya kejadian penolakan dari oknum satpam terhadap anggotanya, Ketua Perwast Angga Apria Siswanto sangat menyayangkan dengan sikap dan tindakan yang telah dilakukan oleh oknum satpam perusahaan yang memproduksi bahan kimia dan beralamat di Jalan Raya Cikande - Rangkasbitung Km. 02 Kampung Banjarsari, Desa Cikande, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang.

Seperti kita ketahui sebelumnya, telah terjadi kebakaran yang menimpa PT. TSIK pada Jum'at (23/10/20) yang lalu, yang diduga telah memakan satu korban jiwa. Namun, dalam kejadian tersebut ada insiden kecil dan akan berdampak buruk kedepannya bagi para pencari berita.

"Telah terjadi pelarangan liputan dan pengusiran terhadap Shauth Maressha M. Munthe dan Nurjamin yang dilakukan oknum Satpam dan beberapa orang di dalam pabrik tersebut terhadap anggota saya," kata Angga, Minggu (25/10/2020).

Angga menambahkan, dengan adanya kejadian pelarangan dokumentasi dan pengusira ini, pihaknya mengecam terhadap oknum satpam PT. TSIK yang diduga sudah melanggar UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

"Sudah jelas, didalam Undang-undang Pers Pasal 18 menjelaskan bahwa orang yang menghambat dan menghalangi kerja Wartawan dapat dipidana 2 tahun penjara atau denda 500.000.000, Karena itulah panduan kita dalam melaksanakan tugas sebagai wartawan, dan kita harapkan kejadian seperti ini tidak terjadi kembali dimanapun," tambahnya.

Masih kata Angga, pihaknya akan berupaya meminta penjelasan ataupun keterangan terkait kejadian yang di alami oleh anggotanya ketika menjalankan tugasnya dalam mengumpulkan segala bentuk informasi dilapangan.

"Perwast akan berupaya meminta keterangan dari pihak PT. Tunas Sumber Ideakreasi Kimia atas perlakuan, prilaku dan tindakan yang sudah dilakukan oleh oknum satpamnya," imbuhnya.

Sementara itu, Shauth Maressha M. Munte yang menjadi korban penolakan peliputan dan pengusiran yang dilakukan oleh oknum satpam membenarkan dengan adanya kejadian yang menimpa dirinya dan Nurjamin.

"Kejadian itu terjadi ketika saya hendak mengambil dokumentasi dan melakukan konfirmasi atas terjadinya peristiwa kebakaran yang menimpa PT. TSIK," ucapnya kepada media via pesan Whatsapp.

Shauth Maressha M. Munthe menjelaskan, kejadian itu dilakukan oleh oknum satpam PT. Tunas Sumber Ideakreasi Kimia serta beberapa oknum warga sekitar yang berada di lokasi kejadian terbakarnya perusahaan yang memproduksi bahan kimia ini.

"Pak, tidak boleh ambil foto-foto, diluar saja pak. Saya di suruh pimpinan saya," jelasnya sembari mencontohkan ucapan oknum satpam.

Atas adanya kejadian yang menimpa dirinya dan Nurjaman dalam menjalan tugas seorang jurnalistik, ia sangat menyayangkan hal seperti ini terjadi, sementara ia dan rekannya hanya ingin mengambil dokumentasi untuk konsumsi informasi ke publik, yang mana notabanenya adalah pekerjaan seorang pewarta untuk memberikan informasi.

"Jangan sampai ada lagi perilaku penolakan untuk mengambil dokumentasi dan pengusiran oleh oknum-oknum yang lain terhadap wartawan yang sedang bertugas dilapangan. Karena bagaimanapun kita semua adalah mitra," harapnya.



 


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »