Jurnal Kelestarian Bangsa

Berita Terbaru

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Butuh Kajian Lebih Dalam Penggantian Nama ProvinsiJawa Barat

By On 11/01/2020 06:57:00 PM

Penulis : Jun








BOGOR, Cula1.ID - Terkait dengan adanya wacana perubahan nama Provinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni Provinsi Jawa Barat yang diwacanakan berganti menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda, dimana wacana tersebut muncul dari sebuah diskusi "Dialog Aspirasi Pengembalian Nama Provinsi Jawa Barat Menjadi Provinsi Sunda" yang diadakan di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu, mendapatkan respon dari berbagai pihak.

Salah satunya dari Budayawan Kota Bogor, Tjetjep Thoriq sekaligus Tokoh Sunda dan Anggota Korp Alumni Daya Mahasiswa Sunda (Kadamas) angkat bicara terkait polemik pergantian Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda.

Menurut Tjetjep, perubahan nama ini seharusnya dibahas secara mendalam, karena akan ada banyak kerugian apabila hanya dibahas dalam forum-forum tertentu.

“Jangan asal merubah, perlu ada forum-forum diskusi atau seminar-seminar,” ungkapnya, Minggu (1/11/2020).

Budayawan Bogor, Tjetjep Thoriq


Tjetjep Thoriq menambahkan, bahwa perubah nama itu mudah, namun merubah isinya yang susah. Karena budaya-budaya Kasundaan dan kebudayaan Sunda kini telah terkikis.

“Kalau ganti nama doang mah mudah, cuma yang paling penting dari itu adalah isi dari nama itu,” tambahnya.

Karena, Sunda itu bukan hanya nama, namun isi yang paling utama. Baginya seberapa paham orang terhadap Kasundaan dan berapa banyak di Jawa Barat ini yang menjalankan ajaran-ajaran Sunda yang nenek moyang ajarkan dahulu.

“Sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada. Jadi, perlu kajian lebih mendalam lagi untuk mengganti nama provinsi,” pungkasnya.

Mengingat, Provinsi Jawa Barat dan Ibukota Bandung serta dipimpin oleh Gubernur Ridwan Kamil ini memiliki luas wilayah 35.377,76 km persegi, 18 Pemerintahan Kabupaten, 9 Pemerintahan Kota, 627 Kecamatan, 645 Kelurahan dan 5.957 Pemerintahan Desa dengan icon Gedung Sate dan menjadi pertemuan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18 - 24 April 1955 di Gedung Merdeka yang diikuti oleh Negara-negara Asia dan Afrika.


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »